Sudah terhitung empat tahun mengenalnya. Tapi baru beberapa bulan
terakhir ini diberi kesempatan untuk lebih mengenal dia. Awalnya, saya
jujur merasa biasa saja. Dia tipe orang yang asik diajak berteman. Sangat asik.
Untuk lebih? Saya rasa tidak. Sifat dia yang tidak bisa fokus ke satu wanita
membuat saya yakin untuk berkata tidak saat itu. Saya sangat cemburuan dan
paham benar apa yang akan terjadi apabila saya benar2 menjalin hubungan yang
lebih dari seorang teman dengan dia. Saya tidak mau menyiksa diri sendiri untuk
berkomitmen dengan tipe pria seperti itu. Saat itu saya tidak merasa menyesal. Saya
yakin dengan apa yang saya pilih. Saya sangat mengagungkan kesetiaan, sedangkan
dia (mungkin) tidak. Berpindah dari satu wanita ke wanita yang lain sudah menjadi pilihan
yang dijalaninya. Bagaimana mungkin saya bisa menjalani hidup dengan dia?
Seiring waktu, saya pun entah kenapa mulai luluh. Ada
suara di kepala yang berbicara. ‘kalo ga dicoba dulu, siapa yang tau?’ akhirnya
di kesempatan kedua saya mengiyakan untuk berkomitmen dengan dia. Perasaan saya
saat itu biasa saja. Walaupun tidak bisa dipungkiri, ada perasaan senang di
hati ‘oh begini ya rasanya pacaran lagi’ setelah sekian lama sendiri.
Bahkan sempat terngiang lagu ‘status palsu’ milik
vidi yang membuat saya berpikir. Ah saya tidak boleh seperti itu. Hari demi
hari berlalu. Dia pandai mengambil hati. Mungkin karena pengalaman dia dengan
banyak wanita membuat dia tahu bagaimana dia harus bersikap. Saya pun perlahan luluh.
Muncul rasa sayang, bahkan sekarang saya bisa benar-benar jatuh cinta
kepadanya.
Saya bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta. Tapi
sekalinya itu terjadi, saya akan benar-benar mencintai orang itu. Ibaratnya,
walaupun ada pria sesempurna apapun di depan saya, jika saya telah menjalin
hubungan dengan seseorang, saya tidak akan berpaling. Tidak munafik, cukup
mengagumi saja. Untuk lebih? Saya rasa tidak. Ya saya sangat menghargai
komitmen. Punya teman banyak silahkan, punya mantan banyak tidak masalah. Asal,
tetap ingat bahwa sudah ada hati yang memiliki.
Menjalin hubungan dengan dia mempunyai tantangan
tersendiri. Dengan banyaknya mantan yang ada. Tidak hanya satu atau dua. Bahkan
jumlahnya tidak bisa dihitung menggunakan jari. Saya adalah stalker. Stalking sana-sini
sudah menjadi hobi. Jika saya memang benar2 ingin mengetahui seseorang, saya
akan men-stalking hingga parah. Saya (mungkin) lebih tau dari apa yang dia
pikir saya tau. Tetapi tidak berarti semua hal saya tau. Selain masalah mantan,
sifat dia yang memang ingin selalu menarik perhatian wanita memang menjadi
sifat yang kurang saya suka. Saya orangnya sangat cemburuan. Itulah yang
menjadi hambatan bagi seorang stalker seperti saya. Menyiksa diri sendiri. Sudah
tau bahwa stalking sangat rentan membuat sakit hati, tetap saja dilakoni. Berkomitmen
dengan dia memang membutuhkan kesabaran yang lebih. Benar2 menguji kesabaran. Tapi
disitulah tantangannya. Tantangan agar mengatur hati agar tidak selalu
cemburuan, tidak selalu curiga.
Namun disamping semua itu, saya bahagia sekarang
dengan dia. Mungkin benar jika ada ungkapan ‘rasa sayang wanita berbanding
lurus dengan waktu, sebaliknya dengan pria. Grafik sayang seorang wanita akan
meningkat seiring berjalannya waktu, tetapi bagi pria justru kebalikannya’. Saya
harap dia tidak seperti itu. Harapannya akan meningkat dan terus meningkat. Mulai
bulan ini saya dan dia resmi LDR (walaupun masih dalam satu kota). Dia sudah
terbiasa LDR tetapi saya tidak. Semoga semuanya akan lebih baik, hubungan saya
dan dia akan lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Saya percaya, setiap kehidupan pasti ada
masalah. Kalo mau tidak ada masalah, untuk apa hidup?
Untuk miftah ,
Terima kasih atas hari2 indahnya beberapa bulan
belakangan ini.
Aku sayang kamu. :)
:)




2 Response to Dirty Little Secret
Don't know what to say..
*peluk*
hope the best for us ya sayang :)
Posting Komentar